Pernahkah kita menilai orang yang miskin (papa) disebut kaya?
Terkadang kita hanya melihat seseorang yang kaya karena banyak hartanya, mewah rumahnya dan bagusnya mobil. Sebenarnya kita telah melupakan definisi kaya yang hakiki, yaitu kekayaan seseorang yang tidak bisa diukur dari sisi harta, melainkan dari segi maknanya.

Kaya itu letaknya di hati. Memang demikianlah seharusnya kita melihat hakikat kaya itu sendiri. Sudah berapa banyak kita temui, orang dengan kekayaan melimpah namun sakit karena stress. Atau bahkan ada pula yang bunuh diri karena beban hidupnya. Sebaliknya sering pula kita dapati, orang yang dalam pandangan kita kekurangan, hidup seadanya. Namun pancaran wajahnya membias senyum kebahagiaan. Tidak ada penyesalan dan bahkan hidup terasa indah buat mereka.

Orang-orang yang kaya pada dasarnya memaknai hidup ini dengan hati mereka. Manakala ALLAH menakdirkan mereka memiliki harta sedikit, maka ALLAH menanamkan dalam hati mereka sifat syukur. ALLAH membuat mereka merasa cukup dengan keadaan yang ada. Hati mereka tidak terkesan dengan keadaan di sekelilingnya. Orang lain punya rumah baru, mobil baru , HP baru dan sebagainya. Namun orang yang kaya di hatinya cukup merasa bahagia dengan keadaan orang lain tersebut tanpa tumbuh di dalam hatinya untuk memiliki hal yang sama. Pada akhirnya dia tidak membutuhkan tambahan harta karena memang hatinya merasa tidak tertarik atau menginginkan barang-barang baru yang tidak dibutuhkannya.

Sebaliknya ketika ALLAH menakdirkan mereka mempunyai harta yang berlimpah, hatinya menjadi syukur dan harta itu digunakan seperlunya saja sesuai kebutuhan. Sementara sisanya dipergunakan untuk jalan mendekatkan diri kepada ALLAH SWT. Harta yang hadir ke hadapannya hanya sekedar singgah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Selanjutnya mengalir lagi untuk disalurkan di jalan ALLAH. Ia merasa cukup dengan keadaan yang ada. Hati nya tidak berangan-angan melebihi apa yang menjadi kebutuhannya.

ALLAH memberikan peringatan kepada hambaNya dalam QS. An Najm : 48
(وَأَنَّهُ هُوَ أَغْنَىٰ وَأَقْنَىٰ)
“Dan Sesungguhnya Dialah Yang Memberikan kekayaan dan berkecukupan.”

Karena hakikat kaya ini bergantung kepada hati dalam memaknai, tentu saja kenikmatannya hanya dapat dirasakan secara individu. Dan untuk menularkannya kepada orang lain juga tidak bisa dilakukan secara paksaan. Karena ALLAH menganugrahkan pengalaman hidup terhadap harta dan rejeki berbeda untuk masing-masing individu. Namun, sama dengan pengalaman spiritual yang lain yang sifatnya individu, hal-hal baik seperti ini tidak ada salahnya kita sharing. Sebatas memenuhi kewajiban kita menyampaikan kebenaran di jalan ALLAH TA’ALA. Yang tidak diperbolehkan adalah membuat cerita itu dibuat-dibuat supaya menarik dengan harapan orang lain berbuat seperti yang kita inginkan. Atau kemudian melakukan paksaan kepada setiap orang untuk mengeluarkan hartanya di jalan ALLAH supaya mengalami pengalaman seperti kita. Tentu saja pengalaman, pencerahan dan hikmah ini datangnya dari ALLAH. Dan kita sebagai hamba-NYA hanya berkewajiban menyampaikan yang terbaik sejauh yang kita pahami agar menambah ketakwaan kita di hadapan ALLAH TA’ALA. Selebihnya ALLAH yang akan memutuskan.
Wallahu ‘alam bishawwab

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *