“Wanita-wanita yang tidak baik untuk laki-laki yang tidak baik, dan laki-laki yang tidak baik adalah untuk wanita yang tidak baik pula. Wanita yang .baik untuk lelaki yang baik dan lelaki yang baik untuk wanita yang baik.” (Qs. An Nur : 26)

——–

Jodoh merupakan perbincangan yang selalu ramai diperbincangkan oleh para singlelillah, didalam sebuah grup WA saja misalnya. Seorang yang silent reader saja, tiba-tiba bisa aktif nimbrung ketika tema “Jodoh” diangkat dalam perbincangan. Grup yang tadinya sepi jadi ramai seketika, dan contoh lainnya tiba-tiba status seseorang jadi ramai dikomentari gara-gara statusnya mengenai Jodoh. Jadi apakah hidup para singlelillah revolve around that matter? Gak kan? Tapi sepertinya mungkin iya.

Dibeberapa status ada yang mengeluhkan dirinya adalah seorang singlelillah yang mendambakan jodohnya untuk segera datang, atau yang lagi booming diantara para singlelilah adalah sistem kode-kodean (ibarat barcode saja) kadang saya juga terjebak dengan sistem ini 😀
Tapi apakah perlu kita menunjukan rasa kebutuhan kita terhadap Jodoh secara terang-terangan? Tentu saja tidak. Jodoh Pasti Datang bertandang, bukan berlalu. Kalau yang berlalu mah namanya bukan jodoh kita,tapi jodoh orang lain hehehe.

Tanpa menunjukan rasa kita akan kebutuhan mengenai Jodoh, Allah sudah menggengam tiap-tiap hati manusia. Maka pasang status Desperate menunggu jodoh tak usah dilakukan, kode-kodean juga gak perlu, yang perlu dilakukan tinggal curhat aja sama Allah. Utarakan niat baik kita pada keluarga atau orang terdekat, siapa tau temen kita punya referensi. Syukur-syukur itu jodohnya, atau lebih baik lagi curhat ke Guru Ngaji or Murobbi itu lebih afdol, perkara semua sudah dilakukan tapi belum memberikan hasil berarti saat ini bukan waktu yang tepat untuk bertemu jodoh kita. Ingat kita akan berjodoh dengan orang yang tepat dan di waktu yang tepat sesuai ketentuan Allah, Keep Calm and you will find your fate.

Jadi balik lagi, bahwa kehidupan singlelilah itu tidak hanya berputar pada masalah jodoh, kalau bagi orang yang berpikir pasti ada yang bisa diambil hikmahnya. Saya selalu teringat dengan nasehat guru ngaji saya, beliau berpesan bahwa “Jodoh itu pasti akan datang, tinggal kita memantaskan diri dalam taat dalam penantian”. Mungkin salah satu alasan kita belum bertemunya jodoh karena masih ada misi yang harus kita emban terlebih dahulu misalnya birul walidain atau berbakti kepada orang tua, atau bisa jadi Allah menginginkan kita untuk belajar lebih banyak, mengeksplore dunia ini dan membuat kita lebih banyak berpikir dan bersyukur, atau bisa jadi kita memang harus memantaskan diri terlebih dahu.

Daripada hidup kita singlelillah disibukan dengan memikirkann kapan jodoh datang, lebih baik kita cek seberapa siap kita untuk melangkah ke jenjang selanjutnya. Menurut pak cahyadi takariyawan dalam bukunya, ada beberapa persiapan yang perlu diperhatikan sebelum menikah yaitu :

1. Persiapan Moral dan Spiritual
Kesiapan spiritual ditandai dengan memantapkan niat dan langkah menuju kehidupan berumah tangga. Jadi singgelilah kudu lurusin dulu niatnya, yang jelas niatnya harus karena Allah SWT. Selain itu, kesiapan moral diperlukan dengan meningkatkan pengetahuan agama dan perbaikan diri secara kontinu. So, cek and re-chek dulu sejauh mana para singlelillah mengenal agama dan rasulnya, sudah benar belum ibadah wajibnya, target hafalannya, ilmu tentang pernikahannya, dan lainnya.

2. Persiapan Konsepsional
Hal ini ditandai dengan dikuasainya berbagai hukum etika dan pernak pernik pernikahan serta kerumahtanggaan. Coba dicek lagi seberapa tahu kita tentang bab konseptual pernikahan dan kerumahtanggaan yang sesuai syariah?

3. Persiapan Fisik
Ditandai dengan adanya kesehatan yang memadai antara kedua belah pihak, jadi menjaga kesehatan dimulai dari sekerang sangatlah penting karena ketika nanti bertemu jodoh dan menikah kondisi fisik sangatlah harus baik, apalagi nanti yang akan menjadi Emak harus sehat terus, kalau tidak nanti siapa yang ngurus jodohnya 😀

4. Persiapan Material
Ini sebagai bekal untuk kehidupan selanjutnya. Bukan mengajarkan menjadi materialistis ya, akan tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa materi merupakan salah satu sarana ibadah kepada Allah.

5. Persiapan Sosial
Membiasakan diri terlibat dalam kegiatan kemasyarakatan merupakan cara melakukan persiapan sosial, apabila laki-laki dan perempuan muslim telah mencapai usia dewasa hendaknya mereka mengambil peran sosial ditengah masyarakat sebagai bagian utuh dari cara mereka belajar berinteraksi dalam kemajemukan masyarakat. So, sudahkah kita mengambil peran di masyarakat? Sudahkah kita berkidmat untuk kemajuan masyarakat khususnya muslim?

Jadi para singlelillah, hidup itu tak melulu soal jodoh. Ada orangtua dan saudara yang perlu kita perhatikan, ada mimpi yang perlu dikejar, ada amanah yang harus dituntaskan, ada ilmu yang harus di amalakan, ada kewajiban belajar yang harus dipenuhi, ada kewajiban memperbaiki sepanjang waktu, ada kewajiban untuk mempersiapkan diri, dan masih banyak lagi tugas kita yang harus kita tuntaskan, daripada sibuk memikirkan jodoh dan mengurusinya, mending kita mengurusi seberapa jauh kita sudah mepersiapkan diri. Tapi sebelum itu, siapa tau ada misi lain yang perlu diselesaikan sebelum kita bertemu dengan jodoh, coba dipikirkan dan renungkan.

Ada kutipan keren dari bukunya Pak Cahyadi “Jodoh itu ditangan Allah, kita tidak memiliki hak untuk menentukan segala sesuatunya, biarlah Allah yang memberikan Keputusan agung-Nya.”

One thought on “HIDUP TAK MELULU SOAL JODOH

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *